Dari sekian Banyak masa pemilu yang pernah saya ikuti hari ini cukup menarik dan di kenang...
Pemilu 1997 saat pertama kali ikut pesta demokrasi, mulai dari arak-arakan kampanye hingga pencoblosan merupakan moment demokrasi yang cukup seru, kondisi ekonomi yang kurang baik mendorong "orang muda"seperti saya untuk beda, beda dengan pilihan tradisional orang tua yang PDI banget , beda dengan pilihan kekuasan yang harus Golkar ke sebuah pilihan Baru bagi sikap politik keluarga "PPP". Semangat KH Alwy dari Madura membakar semangat perubahan saat akhir Rezim Orde Baru... Sebuah pengalaman demokrasi yang tak terlupakan.
Pemilu 2004 awal baru lainya, sebuah harapan baru dengan pemilihan presiden langsung, langsung saat rakyat berarak menuju TPs, langsung coblos salah satu nama idaman. langsung keluar hasilnya tanpa harus kompromi politik para elite.
Saat ini termasuk yang Istimewa lagi Ngak perlu pake Kartu Pemilu bawa KTP dan KK aja sudah bisa milih, ternya bukan hanya saya sendiri, di TPS tempat tinggal saya yang terkenal kurang perduli dengan politik ternyata ada 11 orang yang sudah tercatat sebagai pemilih dengan KTP, bisa dipastikan dengan aturan yang lama kami tidak bisa memperoleh hak suara.
Sebuah dilema negara demokrasi besar di dunia seperti Indonesia, saat hak pilih lama-lama menjadi tirani seperti China, dengan tekanan dan intervensi yang tak kunjung reda baik dari dalam dan luar dengan seambrek kepentingan.
Undang-undang yang tak pernah stabil, kelakuan para penengah yang tak pernah netral adalah penyakit demokrasi Indonesia yang paling parah dan masi sepupuan dengan korupsi.
Tapi Hari ini saya bahagia karena bisa ikut berdemokrasi karena waktu Pemilihan Legeslatif ngak dapet undangan, dengan modal KTP akhirnya bisa juga, ternyata "lebih cepat itu lebih baik", Lebih Efisien dan "pro Rakyat" sehingga ngak harus di "lanjutkan"yang ngak perlu dan Pemborosan,...
Rabu, 2009 Juli 08
Minggu, 2009 Juni 28
Menegok Sebuah Tarian
Saat saya berjalan-jalan di suatu daerah, banyak hal yang menarik, bukan hanya keindahan alam, keramahan suku-suku di Indonesia, ada satu hal lagi yang cukup baik untuk dinikmati, Tarian Daerah.
Sebuah Ekspresi keindahan bukan hanya sekedar kecantikan penarinya tapi juga olah gerak yang bervariasi dan bertenaga atau jika sempat bertanya filosofi sebuah tarian akan kita dapatkan.
Saat moderisasi melanda Generasi muda bangsa ini terobsesi dengan model lain dunia tari yang lebih "keren dan bertenaga". sebuah kreasi yang bukan hanya keindahan alasan utamanya tetapi juga kampanye terus menerus media promosi untuk menjelakan pada kita ini yang ter populer, terkeren dan lain-lain.
Mengambil sebuah contoh tari kreasi seperti Moderen Dance sebuah jenis tari yang sering di pertontonkan di masa ini otomatis akan menjadi sangat popular dengan banyaknya kompetisi dan grup yang terbentuk menarik minat banyak gadis belia untuk turut mencobanya dan menarik minat penonton yang tidak sedikit.
Ini semua bukan hanya sekedar faktor keindahan tariannya atau kecantikan paras sang penari, faktor promosi dan kompetisi terus menerus melahirkan sebuah tanggapan yang semakin luas pada masyarakat.
Kembali kepada Tarian daerah yang tak semarak dulu, saya kira bukan hanya faktor kebosanan penonton menyaksikannya tapi faktor lain seperti promosi dan kompetisi yang hampir bisa di katakan tidak ada. Muncul saat ada tamu dan acara-acara resmi saja, sementara saat ada hiburan rakyat nyeris tak pernah hadir.
Harapannya sederhana semoga kita kembali tergugah untuk menghadirkan setiap moment penting untuk menyuguhkan tari daerah. Menciptakan kreasi baru yang tidak lepas dari akar budayanya juga cukup penting, terakhir pastilah Kompetisi rutin dengan daya tarik hadiah yang baik dan membina.
Selasa, 2009 Juni 23
POTENSI DARAH MU ?
Beberapa hari yang lalu saat seorang teman meyodorkan sebuah polling mengenai potensi daerah untuk diisi, banyak pertanyaan yang mengelitik untuk di jawab. Kebetulan berdomisili di sebuah propinsi yang katannya termasuk kaya di Indonesia yakni Kalimantan Timur.
Agak susah-susah gampang menjawab pertannyaan diatas, Kaltim nama singkatannya sejak jaman penjajahan terkenal dengan emas hitamnya bukan hanya Minyak bumi tapi juga batu bara. Balikpapan sempat di sebut sebagai Bintang Timur oleh Kolonial Belanda saat perusahan minyak Belanda mulai beroperasi di kota itu. Sebuah kota pelabuhan yang nyaman dengan udara pantai yang segar menjadi tempat santai dan menghasilkan bagi pemerintahan kolonial. Disaat Jepang masuk sama saja tujuannya Sumber energi. Di era baru selain Minyak Bumi dan Batu bara, Emas Hijau jadi "hidangan baru" segelitir orang di negeri ini yang sempat minikmati jayanya hasil hutan berupa kayu dan rotan yang setiap hari berlayar entah kemana an menjadi apa.
Era kayu pun hampir berakhir, masih tersisa beberapa kawasan ya kalou tidak resmi "Ilegal Bahasanya". Saya kira itu bukan mainan baru republik ini seorang gubernur pun di Kaltim sempat terserempet kasus izin perkebunan yang ternyata berubah menjadi Ileggal Logging sebut saja namanya "Suwarna" yang sempat menjadi pemberitaan hangat di tanah air setelah menjadi "korban" Komisi Pemeratasan Korupsi.
Belum selesai permukaannya gundul dan tandus gerakan selanjutnya adalah "exploitasi Batu bara" Besar-besaran di bawah beberapa perusahan Amerika, Australia, Korea dan Teman-temannya sebut saja, Kaltim Prima Coal (KPC), KIDECO, INDOMINCO dan ratusan perusahan kecil yang muaranya cuma satu Industri negara-negara maju. Baru saja sang Gubernur Terpilih Awang Faruk mengunjungi beberapa wilayah pertambangan seperti bekas lahan PT KEM yang terkenal dulu menghasilkan 4 juta ton emas setiap tahunnnya hanya menyisakan lubang besar dan darah mati hampir tanpa sisa-sisa emas yang katanya sangat berharga itu bisa menjadi sebuah cadangan devisa negara, atau KIDECO yang disindir tidak memberi kontribusi pada daerah.
Sebagai anak Kalimantan Timur saya lebih rela kerja rodi pada setiap rezim pemerintah Indonesia untuk menambang hasil bumi ini jika untuk membangkitkan listrik untuk setiap rumah masyarakat indonesia, dari pada hasil bumi ini hanya untuk membangkitkan industri negara asing yang ujung-ujungnya terus menerus menjajah kita dengan pola ekonomi gelobal dan bahasa-bahasa manis HUTANG lainnya.
Terakhir saya cuma mau menjawab pertanyaan diatas dengan sebuah kata sederhana "Harga Diri" itulah potensi daerah ku yang belum terkelola dengan baik, ketika hasil buminya bisa membuat tuan-tuan belanda bisa tersenyum membayar hutang pemerintah belanda waktu itu yang porak poranda akibat perang di erofa atau membuat bangsa lain di dunia hari ini tidak krisis energi sementara daerah ku dan saudaraku yang ada di negeri Indonesiaharus berkumpul di sebuah rumah untuk melihat Bola lampu menyala.
Agak susah-susah gampang menjawab pertannyaan diatas, Kaltim nama singkatannya sejak jaman penjajahan terkenal dengan emas hitamnya bukan hanya Minyak bumi tapi juga batu bara. Balikpapan sempat di sebut sebagai Bintang Timur oleh Kolonial Belanda saat perusahan minyak Belanda mulai beroperasi di kota itu. Sebuah kota pelabuhan yang nyaman dengan udara pantai yang segar menjadi tempat santai dan menghasilkan bagi pemerintahan kolonial. Disaat Jepang masuk sama saja tujuannya Sumber energi. Di era baru selain Minyak Bumi dan Batu bara, Emas Hijau jadi "hidangan baru" segelitir orang di negeri ini yang sempat minikmati jayanya hasil hutan berupa kayu dan rotan yang setiap hari berlayar entah kemana an menjadi apa.
Era kayu pun hampir berakhir, masih tersisa beberapa kawasan ya kalou tidak resmi "Ilegal Bahasanya". Saya kira itu bukan mainan baru republik ini seorang gubernur pun di Kaltim sempat terserempet kasus izin perkebunan yang ternyata berubah menjadi Ileggal Logging sebut saja namanya "Suwarna" yang sempat menjadi pemberitaan hangat di tanah air setelah menjadi "korban" Komisi Pemeratasan Korupsi.
Belum selesai permukaannya gundul dan tandus gerakan selanjutnya adalah "exploitasi Batu bara" Besar-besaran di bawah beberapa perusahan Amerika, Australia, Korea dan Teman-temannya sebut saja, Kaltim Prima Coal (KPC), KIDECO, INDOMINCO dan ratusan perusahan kecil yang muaranya cuma satu Industri negara-negara maju. Baru saja sang Gubernur Terpilih Awang Faruk mengunjungi beberapa wilayah pertambangan seperti bekas lahan PT KEM yang terkenal dulu menghasilkan 4 juta ton emas setiap tahunnnya hanya menyisakan lubang besar dan darah mati hampir tanpa sisa-sisa emas yang katanya sangat berharga itu bisa menjadi sebuah cadangan devisa negara, atau KIDECO yang disindir tidak memberi kontribusi pada daerah.
Sebagai anak Kalimantan Timur saya lebih rela kerja rodi pada setiap rezim pemerintah Indonesia untuk menambang hasil bumi ini jika untuk membangkitkan listrik untuk setiap rumah masyarakat indonesia, dari pada hasil bumi ini hanya untuk membangkitkan industri negara asing yang ujung-ujungnya terus menerus menjajah kita dengan pola ekonomi gelobal dan bahasa-bahasa manis HUTANG lainnya.
Terakhir saya cuma mau menjawab pertanyaan diatas dengan sebuah kata sederhana "Harga Diri" itulah potensi daerah ku yang belum terkelola dengan baik, ketika hasil buminya bisa membuat tuan-tuan belanda bisa tersenyum membayar hutang pemerintah belanda waktu itu yang porak poranda akibat perang di erofa atau membuat bangsa lain di dunia hari ini tidak krisis energi sementara daerah ku dan saudaraku yang ada di negeri Indonesiaharus berkumpul di sebuah rumah untuk melihat Bola lampu menyala.
Langgan:
Entri (Atom)
